Serangan teror baru-baru ini terjadi menimbulkan dampak buruk kepada sejumlah orang dan kelompok. Imbas yang terjadi adalah segelintir muslimah yang mengenakan cadar mendapat perlakuan buruk dan dicurigai.

Mantan terpidana terorisme Yudi Zulfachri menyebut diskriminasi atau intimidasi yang dilakukan masyarakat terhadap perempuan bercadar merupakan salah satu keberhasilan agenda para terorisme dalam melancarkan aksinya.
Yudi meminta masyarakat tidak mencurigai dan mencap perempuan menggunakan cadar sebagai orang radikal, atau termasuk dalam jaringan teroris. Menurutnya, stigma wanita bercadar maupun laki-laki berjenggot dan bercelana di atas mata kaki tak ada kaitannya dengan orang berpaham radikal.

“Kalau enggak mau mendukung terorisme maka jangan pernah melakukan itu,” kata Yudi.

Yudi meyakini tak semua istri dari pelaku teror menggunakan cadar dalam kesehariannya.

“Kalau nanti tiba-tiba semua wanita cadar dicurigai, nanti mereka berubah aksi, wanita enggak cadar yang melakukan aksi. Jadi itu enggak ada hubungannya. Enggak semua istri para pelaku itu bercadar,” ujarnya.

“Kalau masyarakat melakukan hal itu, intimidasi atau diskriminasi wanita bercadar, berarti sudah menyukseskan kampanye pelaku-pelaku terorisme,” kata kata Yudi usai mengikuti sebuah diskusi di Cikini, Jakarta, Sabtu (19/5).

Stigma negatif terhadap perempuan yang menggunakan cadar turut dirasakan oleh anggota komunitas perempuan Niqab Squad. Salah satu anggotanya, Sul (28), beranggapan kekhawatiran yang timbul di tengah masyarakat tersebut tidak berlebihan. Oleh sebab itu, dia dan teman-temannya berusaha memahami hal it.

“Biasanya kalau sudah kayak gitu, kita dianjurkan untuk memakai masker sebagai pengganti cadar. Jadi masyarakat tidak terlalu negative thinking,” ujarnya saat dihubungi CNNIndonesia.com. (Sumber: CNN Indonesia)


Niqabis

Muslimah yang mendedikasikan tulisannya untuk syiar Islam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *